Showing posts with label 30Hari Menulis Surat Cinta. Show all posts
Showing posts with label 30Hari Menulis Surat Cinta. Show all posts

Friday, March 16, 2012

Surat Cinta #18: St.Patrick's Day


Note: Try reading this while hearing the song. Make sure you notice the bold ones and read it while the lyrics in between was sing (Perkiraan saja)



Here

Do you remember those nights when I was scared that someday you’ll leave me forever?

comes the cold
Break out the winter clothes
And find a love to call your own
You - enter you
Your cheeks a shade of pink
And the rest of you in powder blue

Me: “Grandma?”
Her: “Yes?”
Me: “Happy birthday, I saved money for your present.”
Her: “Let’s eat junk food and ice cream!”

Who knows what will be
But I'll make you this guarantee,see

Her:  How many years more you want me to live?
Me: Fifty! Fifty and another fifty! You have to see me graduate, works, get married, have children, and then we both grow old together.”
….and then you cried and hug me and said,
“Yes, I’ll live for another one hundred years and we’ll grow old together.”

No way November will see our goodbye
When it comes to December it's obvious why
No one wants to be alone at Christmas time

Her: (reading my letter made in K-Mart in front of families while we’re having BBQ outside Seattle)

In the dark,

 “ ‘Dear Grandma, happy birthday, I’m sorry I don’t have any present, but I promised I will made you something.”

Me: (age 7, blushing) “Can we start the barbeque, please? And don’t read the letter loudly again.”
Family: (Laughing)

on the phone
You tell me the names of your brothers
And your favorite colors
I'm learning you
And when it snows again
We'll take a walk outside
And search the sky
Like children do
I'll say to you

Me: Where are you going? I’m going too!
Her: Really?
Me: “Yeah, we’re roomates and fighting partner at the same time, right?”

No way November will see our goodbye
When it comes to December it's obvious why
No one wants to be alone at Christmas time
And come January we're frozen inside
Making new resolutions a hundred times
February, won't you be my valentine?

Her: “Who’s going to take care of you when I’m gone?”
Me: “No! You can’t leave me! Who’s going to take care of me beside you?”
Her: “That’s what I’m thinking all this time.”

And we'll both be safe 'til St. Patrick's Day

We should take a ride tonight around the town
and look around at all the beautiful houses
something in the way that blue lights on a black night
can make you feel more

Me: “Why can’t I be like normal kids who goes everywhere with their mom?”
Her: “You’re my youngest daughter”

everybody, it seems to me, just wants to be
just like you and me

No one wants to be alone at Christmas time
Come January we're frozen inside
Making new resolutions a hundred times
February, won't you be my valentine?

Do you remember those nights when I was scared that someday you’ll leave me forever?

And if our always is all that we gave
And we someday take that away
I'll be alright if it was just 'til St. Patrick's Day

(These are the real conversations I had with my grandmother. She died of pancreas cancer in April 21st, 2006 when I was 16 years old. It’s been almost six St.Patrick’s day, after she never came home.)

Wednesday, January 18, 2012

Surat Cinta #17: Untuk Stephanie

Stephanie, aku ingat. Kamu lahir di malam purnama, hari Sabtu.

Mungkin itu penyebab matamu yang bulat. Atau kecintaanmu pada bintang.
Ketika anak lain membaca komik, kamu akan membaca ensiklopedia. 

Kamu mogok lahir, membuat Mama kesakitan.
Kamu baru mau muncul ketika Papa datang.
Dasar kamu anak papa.
Dan memang kamu blueprint papa. Seratus persen.

Ingatkah kamu, waktu kecil nenek sering berkata bahwa manusia tidak ada yang bisa menghitung bintang di langit.
Lalu kamu akan menjawab,
"Enggak,orang lain nggak bisa, tapi aku bisa kok."
Lalu mulai menghitung bintang setiap malam saat kamu punya kesempatan.
Dan tiap malam juga kamu lost count. Lalu besoknya mencoba lagi.

Aku ingat usia enam tahun kamu membaca puisi 
tentang cita-citamu di acara pensi sekolah kita.
Berapa yang datang, Stephanie?
Aku tak mengira kamu yang  pemalu itu mau maju 
di depan audiens sebanyak itu tanpa disuruh.
Mungkin itu bukti kalau kamu memang serius karena toh dua belas tahun kemudian
kamu lulus masuk fakultas jurusan yang kamu sebut dalam puisi itu. 

Stephanie, arti namamu adalah 'mahkota dan karangan bunga'.
Dan memang kamu si bungsu yang manja senang diperlakukan seperti putri,
dan pipimu selalu merah tiap ada yang memberikan bunga.

Stephanie, aku ingat kamu bertanya kehadiranku hingga bertahun-tahun 
sampai kamu mengerti betul aku pergi kemana. 
Mengapa aku tiba-tiba menghilang.
Mungkin kita bisa bertahan karena berdua.
Mungkin juga kamu jadi nggak bisa sendiri karena aku selalu ada.
Bahkan setelah kamu dewasa kamu masih berharap aku ada, supaya nggak ada yang bisa menyakiti kamu seperti sekarang.

Stephanie, aku tahu.
Tahu kalau kamu sering meringkuk di kamar sendirian sambil mengunci pintu,
mendengar papa-mama kita berargumen, suara-suara dan piring pecah, lalu bertanya aku dimana. 
Mengapa aku nggak ada disana disaat kamu menangis sendirian.
Kamu ingat Brownie anjing kita? Tiap Mama marah lalu hendak memukulmu,
Brownie akan menggonggong lalu menyembunyikan kamu dalam bulunya
Aku titip hatimu sama Brownie untuk dijaga.
Karena selain kamu, aku nggak percaya orang lain.

Stephanie..
Setelah dewasa kamu takut dibentak-bentak.
Takut petir dan suara-suara keras lainnya.
Lalu punya ikatan emosi lebih dengan binatang.
Kamu lebih senang menhabiskan waktu dengan buku daripada dengan manusia.
Dan kamu nggak pernah berani membuka hati.
Setengahnya mungkin memang sudah hancur nggak bersisa, Stephanie.
Lalu kamu khawatir nggak ada yang mau menerima sisa yang hanya setengah itu.
Kamu sadar nggak? Setengah hati milikku yang sisa, aku berikan padamu. 

Nggak perlu khawatir, Stephanie


See,I'm Right below you..
 


Stephanie adikku, jangan menangis lagi.
Orang lain mungkin nggak bisa sendirian, tapi kamu bisa.
Di saat hatimu sakit, ingat kalau setengahnya milikku juga,
dimanapun aku sekarang, I felt it too.

Salam sayang,
Sam.
(Kalau saja reinkarnasi itu ada, kita pasti jadi kakak-adik lagi).




Wednesday, June 22, 2011

Surat Cinta #16: Untuk Perut dan Nasi Kotak

Jadi ceritanya tanggal 4 Juni kemarin saya bikin games dan makan bareng adik-adik
Dewi Sartika (mereka ini anak-anak yang suka ngamen di daerah dago).


Di sepanjang persiapan acara ini, saya merasa letih luar biasa. 
Capek gara-gara mesti jalan kaki dari terminal dago ke rumah mereka masih normal,
capek gara-gara harus seimbangin kemauan antar dua pihak
(GMAHK Setiabudi dan Dewi Sartika) ini yang bikin letih.
Yang satu maunya begini, yang satu maunya begini.

Apalagi pas hari H. Saya sebel berat gara-gara minta dianterin pake motor
biar cepet tapi yang nganterin malah lebih memilih tidur. Oke, skip that part. 

Habis itu saya jemput mereka sendiri ke dago atas,
terus jemput lagi di simpang dago, baru meluncur ke balubur. 
Jangan dibayangin mereka ini anak-anak manis. 

Susah diaturnya luar biasa, dan saya sering teriakin mereka satu-satu karena 
kebiasaan malas mandi mereka. 
Setelah sampai di balubur pun mereka langsung lari sana lari sini 
dan harus dikejar satu-satu 
(jumlahnya ada 20 anak, silakan bayangin sendiri gimana kacaunya)

Akhirnya begitu mereka mulai main games, saya cuma duduk. Capek. 
Untung temen-temen yang lain nggak protes, 
membiarkan saya istirahat sebentar.

Kenapa saya ngotot bercapek-capek ria?

Begitu ngebagiin nasi kotak, makan cemilan sama-sama, 
lihat mereka semangat waktu jawab pertanyaan dan dapet hadiah, 
buat saya itu udah cukup. 
Cukup bikin saya senyum-senyum sendiri dan 
pengen nangis terharu di saat yang sama.

Dan begitu mau pulang, saya ngobrol sama satu anak, namanya Amin. 
Saya bilang gini, "Duh, aku lapar deh. Belom makan dari siang." 
Terus dia langsung ngulurin nasi kotak punya dia sambil bilang, "Ini, buat Mbak aja."

Padahal dia juga belum makan.
Dan saya tahu dia jarang makan makanan enak seperti itu.
Tapi dia ulurin nasi kotaknya sambil bilang itu buat saya aja.
Nasi kotak punya dia yang cuma satu itu.
Saya cuma menggeleng terus bilang, "Nggak. Itu punya kamu."

Begitu mereka pulang, naik angkot dan melambaikan tangan 
sambil bilang terima kasih,
saya sedikit menitikkan air mata. 
(sedikit, soalnya lagi di jalan raya)
Seperti ditabok pake raket di muka.

Saya nggak butuh pakaian bagus dan handphone mahal.
Saya nggak butuh panggung gede dan orang-orang teriakin nama saya.
Tapi saya butuh buat belajar berbagi.
Bukan di saat isi dompet saya banyak, baru saya mau bagi, 
tapi di saat saya hanya punya sedikit, tapi saya beri buat orang lain.
Memberi yang terbaik. 
Saya nggak punya kualitas itu. 





Sedikit belajar, pulangnya saya nggak ngeluh waktu harus jalan kaki lagi 
dan nggak ada yang nganterin.


(maaf nggak ada fotonya, nggak ikut fotoan.. Foto lama ada di notes facebook saya,
monggo dilihat)

Sunday, May 29, 2011

Surat cinta #15: Dear Future Children

I promise to go to every soccer game or dance recital.
I promise to try to be your best friend,cuddle you when you're 5,
say yes to every pet you want when you're 9,
play baseball at your 6th grade,
watch you put on make up for a guy in middle school,
see how you grow and punch other guys on their faces,
hear your prom kiss when you graduate from high school,
see you packing for college,
see you failed and rise again.
See you succeed and be at your wedding.

I promise to find the coolest dad ever,
who can teach you to play basketball
while in the night he tells you a hundred fairy tales.
A dad who can cook,and build a treehouse too.
Someone who can teach you piano lesson,and how to be a man.
Someone who will cheer at your football game,
and be mad when you got home late on school's night.

I promise Mommy and Daddy will love and take care of each other.
Not just for the first years--but forever--for better for worse.

I promise I am going to give you everything I wish I had growing up.

Promise that you will wait for me.

:)


Friday, April 22, 2011

Surat Cinta #14: Untuk Mr. L

Surat pertama saya ditulis untuk orang yang sudah begitu setia
menemani, mendampingi, dan menyayangi saya
selama tepat satu tahun terakhir ini. 

Kami bertemu pada usia sembilan belas tahun.
Sekarang hampir dua puluh dua tahun.

Saya dan kamu mungkin nggak akan tahu seberapa besar saya (dan kamu, mungkin)
saling membutuhkan kehadiran satu sama lain.

Mungkin menurutmu menggelikan ketika saya bicara kalau saya nggak pernah bisa tidur nyenyak sebelum kamu mengabari kalau kamu sudah di rumah.

Atau ketika seorang teman berkomentar,
'Kakak kelihatan paling seneng kalau lagi ketemu sama Kak (namamu)'

Atau setiap saya berkata, "Kak, mau peluk."
Ah. Saya senang memanggilmu Kakak. 

Kamu mungkin nggak sadar kalau peran kamu di hidup saya ini
sudah menjadi begitu penting.
Dimulai dari sekedar menanggalkan rok pendek yang kamu nggak suka itu,
sampai mempertimbangkan pendapatmu akan keputusan yang saya rasa penting.

Saya sering kecewa, tiap kamu menghilang dan kembali begitu saja.
Kamu (kembali) nggak sadar betapa dalam luka yang kamu torehkan.
Malam-malam dimana saya menangis tersedu.
Dan kamu nggak ada. Membiarkan saya mengusapnya sendirian.
Membiarkan saya bertanya-tanya sendiri.
'Kamu dimana,Kak?'

(Ah.Menulis baris-baris ini membuat mata saya kembali berkaca-kaca.)


Tak bisakah kamu 'tinggal'? Jangan pergi lalu datang kembali seperti itu?


Dan kembali, kamu selalu meminta saya mengalah.


Mungkin benar, kamulah titik kompromi saya.
Kamu pengecualian saya. 


Pertanyaannya: Pernahkah kamu (kembali) berkompromi untuk saya?


Lalu saya memilih.
Saya memilih untuk menunggu.
Ketika kamu kembali,saya akan bikinin kamu teh hangat.
Membiarkan kamu tertidur di kasur saya.

Menikmati tiap kali kamu melarang saya.
Menyukai wangi jaketmu yang menempel
Caramu bicara.
Caramu memeluk.

Kita punya banyak pilihan lain--tapi masih memutuskan untuk tetap bersama.
Ketika saya mengingat itu,
saya berasa disadarkan kembali.

Itu semua sudah lebih dari cukup.

"Hei, Sayang. Selamat tanggal duadua,ya.
I'm glad we travel one more day together as--us."

Saya sayang kamu, Mr.L.
Sungguh.
Happy 1st anniversary.

cokelat ber-rhum :)



Sssst.. Kamu tahu,
masih banyak kupu-kupu terbang di perut saya tiap kita bertemu.

Sunday, February 13, 2011

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #12

Tuhan,
Surat cinta ini untuk Kirana. Perempuan penting yang Engkau taruh di sisiku.

Saya sering mengeluh soal sifatnya yang posesif dan pencemburu. Atau pekerjaan kami yang sangat bertolak belakang. Atau fakta kalau Kirana tidak bisa memasak.

Tapi saya lupa mengartikan cemburu dan posesifnya sebagai tanda sayang, tanda perhatiannya pada saya. Saya lupa kalau saja dia bukan seorang perawat, apa nasib saya kalau saya sakit? Dan memangnya kenapa kalau dia tak bisa memasak? Harusnya saya cari koki, bukan cari calon isteri.

Dan saya terlambat menyadari itu semua.

Hari ini, besok, lusa, tahun depan, saya akan terus menganggap dia hidup. Andaikan waktu dapat diputar jarumnya ke kiri, dan waktu esok menjadi hilang, dan Kirana-ku akan terus ada.

Jika ini tentang siapa yang datang dan tak pernah pergi, maka ini memang bukan cerita tentang kami. Bukan tentang saya, bukan tentang Kirana.

Jika ia sudah tiba di sisi-Mu, katakan padanya saya juga tak pernah melepas cincin pernikahan kami sejak dia pasangkan di jari saya. Sampai hari ini.

Karena ini tentang cinta. Karena cinta itu, Kirana.

Sampai kita berjumpa lagi, Kirana-ku sayang.

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #11

Sayang,

1. Tagihan listrik dan telepon dibayar sebelum tanggal 20.
2. Kalo bikin nasi goreng, jangan kebanyakan garam. Udah tua.
3. Jangan tidur terlalu larut, nanti sakit kepala.
4. Dengerin The Smiths. Band paling keren sedunia!
5. Bilang sama tetangga sebelah, sebenernya aku kesel banget waktu mereka nggak sengaja motong anggrek merpatiku, tapi aku pura-pura nggak kenapa-kenapa.
6. Titip ke-empat orang tua kita. Jaga mereka baik-baik ya.
7. Titip Miguel juga ya, jangan lupa catfood favoritnya yang rasa tuna, dan dia nggak boleh deket-deket AC.
8. Saya sayang kamu. Walaupun kamu sudah tahu, tapi saya ingin mengulang kalimat itu setiap hari. Tak apa-apa kan?

Ini surat terakhirku. Aku menghabiskan empat hari terakhir tak sadarkan diri di ruang ICU. Simpan surat ini ya, selanjutnya aku mungkin tak bisa menulis lagi. Jangan cari aku. Aku ingin kamu tetap menganggapku hidup di suatu tempat.

Mengapa ini surat yang terakhir?

Karena ini semua bukan tentang kita, tentang kamu, atau tentang saya. Ini semua tentang siapa yang datang, dan tak pernah pergi.

Kita memang tak tahu akan hari esok,lusa,dan tahun depan. Karena itu, waktu-waktu berharga seperti yang kita miliki saat ini, adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Tapi aku tidak takut lagi akan hari esok, waktuku yang terus berputar tak membuatku khawatir, karena aku pasti akan bahagia hingga detik-detik terkahir.

Salam sayang,
Mantan isterimu

Nb.
sejak kita menikah, sampai hari ini, saya tak pernah absen memakai cinicn nikah kita. Itu saja.

Thursday, February 10, 2011

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #10

Kirana-ku,

Besok,lusa, minggu depan, tahun depan, nggak ada jaminan bahwa seseorang bisa hidup di dunia ini. Semua makhluk menjadi tua. Di saat ia membuka mata di pagi hari, saat itulah ia sadar bahwa usianya semakin singkat.

Manusia memang harus kehilangan sebelum menyadari bahwa yang terbaik yang mereka punya ada di depan sampingnya.

Sekarang ijikan aku mendampingimu. Meskipun kamu hanya menijinkan kita bertemu lewat surat-surat ini.

Nggak ada jaminan kita masih bisa melihat dunia ini besok. Karena itulah, waktu-waktu berharga yang kita miliki seperti sekarang ini, adalah hal yang tak ternilai harganya.

Toh, kamu sudah menerima janji itu bukan? Di saat aku bertanya, "Kamu bersedia menikah sama aku? Hidup bersama, dan ngelewatin semua sama aku kan?" kamu sudah terikat kontrak seumur hidup,Kirana. Maaf, kamu sudah terjebak.

Satu lagi, ini memang bukan tentang kamu. Karena kamu tidak pergi, Kirana.

Salam sayang,
Mantan suamimu.

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #9

Sayang,

Kalau waktu ini sudah hampir habis apa yang akan kita lakukan? Akankah kita berusaha meminta maaf pada setiap orang yang pernah kita buat sakit hatinya? Ataukah kita akan melakukan segala hal yang belum sempat kita lakukan?

Kali ini giliran saya yang buat pengkuan.

Sayang,
Kanker pankreas ini sudah menjalar sampai ke hepar. Kalau kamu bisa bayangkan sakitnya, bayangkanlah. Rasanya raga ini telah lelah. Ada saatnya manusia harus berhenti berusaha dan pasrah pada kehendakNya. Itu kata dokter, bukan aku.

Apakah ini saatnya bagiku?

Aku tak ingin bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini. nanti aku malah menyalahkan Tuhan. Karena jika ini tentang siapa yang datang dan tak pernah pergi, maka ini jelas bukan tentang saya. Karena saya akan pergi.

Dan selagi masih sempat, aku ingin menyampaikan ini:
Saya cinta sama kamu. Sejak hari pertama kita bertemu, hingga hari ini. Rasa itu nggak pernah hilang.

Saya nggak pernah sukses membenci kamu.

Oh, by the way, aku sudah berani ke toilet sendiri kalau malam hari.

Salam sayang,
Mantan Isterimu.

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #8

Kirana,

Kata siapa pria tak menangis? Satu bulan sejak kepergianmu, aku sering menangis. Kamu tidak membawa baju-baju yang belum sempat kamu cuci, bukan? Aku tak mencucinya. Aku jadikan pengganti sarung bantal agar wangimu tercium.

Aku kacau tanpa kamu, Kirana.
Kamu selalu bawel mengingatkanku makan tepat waktu. Aku sering lupa ulang tahun ibuku sendiri, tapi kamu selalu jadi orang pertama yang menelepon beliau setiap tanggal 3 Maret. Aku suka caramu membangunkanku di pagi hari. Kamu akan melompat dan memelukku sambil bermanja-manja. Lalu aku akan mencubit hidungmu dan berkata, "Isteri siapa sih, manja banget."

Sekarang aku sering melewatkan jam makan. Ibu sering bilang kangen kamu. Dan aku sering terlambat. Pakaianku hanya bersih saat akhir minggu. Dan aku rindu suara manjamu.
Aku kacau tanpa kamu, Kirana.

Kamu tahu? Kamu sudah memutar duniaku.
Artinya, aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana hidup tanpa adanya kamu.

Aku sayang kamu Kirana, dari hari pertama kita jalan bersama, sampai hari ini.

Mantan suamimu.

Monday, February 07, 2011

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #7

Sayang,

Kamu ingat saat kita pertama kali jalan berdua? Hatiku nggak karuan tiap kali mendengar deru motor di depan rumah, bertanya-tanya apa itu kamu atau bukan. Apakah kamu akan menganggapku manis dengan kaus lusuh dan sepatu kanvas yang aku pakai dari SMA. Apa aku boleh berharap kamu akan mengajakku keluar lagi? Atau haruskah aku mengecup pipimu saat kamu mengantarku pulang? Dan setelah kamu datang, semua rencana itu lenyap.

Aku menikmati caramu bercerita. Menikmati cara kamu tertawa. Membiarkan kamu menatapku sampai aku jengah. Membiarkan wangimu menempel di jaketku.

Katanya, cara paling mudah untuk tahu apakah kita jatuh cinta atau tidak pada seseorang, cobalah untuk menghabiskan waktu bersamanya. Apabila kamu tidak menyadari berapa banyak waktu dan betapa cepatnya waktu berlalu, maka sudah pasti, kamu cinta padanya. Berapa jam yang kita habiskan waktu itu? Rasanya cepat sekali, Sayang.

Hari itu, aku sadar, aku jatuh cinta padamu.

Dan hanya ada dua waktu dimana aku ingin habiskan bersamamu.

Sekarang. Dan selamanya.

Salam sayang,
Mantan isterimu.

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #6

Kirana,

Aku punya pengakuan. Aku memang jatuh cinta selain pada dirimu. Kamu sangat posesif dan pencemburu, Kirana, itu sebabnya aku tak berani membahasnya di depanmu, bahkan hingga hari ini,sebenarnya. Mungkin aku masih berharap kamu akan cemburu. Artinya kamu masih menginginkan aku bukan?

Lama kelamaan, ada rasa lain yang tidak bisa aku jelaskan. Rasa yang berbeda dengan apa yang aku rasakan padamu. Maafkan aku, jika waktu dan seluruh ceritaku kubagi bersama dia, pekerjaanku.

Terkadang aku berpikir akan lebih mudah jika kita sudah mempunyai anak. Lalu aku tertawa saat memikirkannya. Bagaimana kita mau punya anak, saat aku pulang kamu sudah tidur. Saat kamu bangun aku masih terlelap. Kita hanya dua orang asing yang tidak saling mengenal yang kebetulan tinggal seatap.

Tapi sungguh, setelah kita berpisah, barulah aku benar-benar menyesal. Tak ada satu orang pun seperti kamu, Kirana. Itu saja pengakuanku hari ini.

Maafkan aku, Sayang.

Mantan suamimu.

Sunday, February 06, 2011

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #5

Sayang,

Ketika pasangan menjauh, seharusnya pasangannya mengalah, menariknya lebih dekat, atau mengejarnya. Tapi aku nggak bisa mengejar kamu, kamu terlalu jauh di atas sana dan kakiku tak bisa mencapaimu. Aku hanya mengulurkan tangan berharap kamu mau menarikku. Tapi kamu berkata, "Kita saling teriak saja, aku bisa mendengarmu."

Sayang, ada saatnya aku lelah berteriak. Dan ada saatnya kamu menolak menoleh ke bawah. Ketika kita berhenti berusaha, itulah saatnya kita saling tahu, kalau kita sudah menyerah.

Ternyata kita berbohong di altar. Ternyata susah dan senang itu sekedar kata. Sehat dan sakit itu cuma sekedar janji. Sekedar liturgi agar kita bisa menyelesaikan hari itu. Ternyata saat di altar, saat kita sedang bertemu denganNya pun, kita masih berani berdusta.

Tahukah kamu doaku pada Tuhan waktu itu?
"Tuhan, jika Engkau ingin mengambil, ambillah tapi ijinkan air mata ini kering barang sehari saja."

Tuhan sedang curang. Karena air mata ini tidak pernah kering. Barang seharipun. Apa ada yang salah dengan doaku?

Salam sayang,
Mantan isterimu.

Tuesday, February 01, 2011

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #4

Kirana,

Aku senang kamu menggunakan kata 'aku'. Sebelumnya kamu menggunakan kata 'saya'. Kata yang hanya kamu gunakan saat kamu marah atau kamu sedang serius. Aku tak tahu kamu sedang marah atau serius dalam suratmu sebelumnya. Namun yang pasti, kata 'aku' terdengar lebih akrab di telingaku.

Kirana, kamu ingat saat pertama kali aku melamarmu?
Aku yang lusuh berantakan ini, dengan jeans seadanya datang ke pintu rumahmu dalam keadaan basah sehabis kehujanan. Aku bertanya-tanya mengapa Bandung di bulan Mei masih turun hujan sederas itu?

Kamu mengelap wajahku, lalu menyuruhku ganti baju dengan kaus kebesaran yang sering kamu pakai tidur. Dan entahlah, Kirana, kalimat itu mengucur begitu saja dari mulutku, tanpa bisa aku cegah.

"Kamu bersedia menikah sama aku? Hidup bersama, dan ngelewatin semua sama aku kan?"

Aku kira kamu akan terkejut. Terdiam. Bertanya apa aku serius. Atau mungkin menertawakan ide bodoh dan gila itu. Lalu berkata bahwa kamu akan memikirkannya dulu. Aku belum bekerja, bukan?

Tapi kamu langsung memeluk leherku sambil berkata 'Mau' berulang-ulang kali.

Kirana, langit saat mendung tak pernah terlihat seindah itu.

Salam,
mantan suamimu.

Monday, January 31, 2011

Tentang Siapa yang Datang dan Tak Pernah Pergi #3

Sayang,
Aku cuma butuh kamu. Dan kamu saja. Aku tahu waktumu berharga. Tapi apakah tidak bisa disisihkan satu jam saja untuk aku? Aku tahu itu permintaan yang egois. Aku egois. Padahal kamu tidur di sampingku setiap malam. Menutup hari bersama.
Manusia memang sulit merasa puas.

Tapi kamu datang dan pergi sesukamu. Tak bisakah kamu di sampingku saja? Aku bukan barang, yang bisa kamu sayang saat kamu sedang iseng, dan bisa kamu simpan saat kamu sedang sibuk di kantor.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala, Sayang. Semakin lama aku semakin sadar bahwa kamu lebih cinta pekerjaanmu.

Kamu tahu? Disamping kamu aku merasa tenang. Sekarang aku sulit tidur. Sudah lupa rasanya tidur sendirian. Kamu ingat aku sering membangunkanmu tengah malam kalau aku takut ke toilet sendiran? Aku sering tersenyum sendiri mengingatnya sekarang.

Oh ya, jangan lupa bayar tagihan lisrtik dan telepon. Aku tak yakin kamu pernah melakukannya sendiri, dan aku tak yakin kamu akan ingat. Jangan suka numpuk cucian ya, nanti banyak nyamuk.

Salam sayang,
Mantan istrimu.

Sunday, January 30, 2011

Tentang Siapa yang Datang, dan Tak Pernah Pergi #2

Kirana, kamu tahu?
Aku tak punya ide mengapa kamu mau menungguku pulang kerja setiap malam. Bukannya aku tak suka, aku hanya selalu merasa bersalah tiap kali melihatmu tertidur di sofa. Kamu bisa masuk angin, Sayang. Kamu tahu pekerjaanku sedang sibuk-sibuknya.

Aku merasa kurang ajar. Aku tak bisa membelikanmu cincin emas putih yang kamu inginkan itu. Jangan tanya aku tahu darimana. Aku menangkapnya dimatamu saat kita pertama kali melihatnya di mall. Kadang aku ingin membelikanmu barang-barang yang kamu inginkan, tapi kamu selalu bilang, "Nggak usah, nggak apa-apa."

Sehingga waktu kamu minta kita berpisah, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tahu butuh keberanian besar untukmu untuk meminta sesuatu. Dan aku memang ingin mengabulkan apa yang kamu minta.

Semoga sehat selalu
Mantan suamimu.
Creative Commons License
Journey. And Us. is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.